Apa Itu Shale Gas?

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, permintaan akan sumber energi meningkat pesat. Namun peningkatan ini tidak diiringi dengan jumlah sumber energu. Justru sebaliknya, bahan bakar fosil yang selama ini menjadi sumber energi utama kian menipis cadangannya. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari sumber energi alternatif. Salah satun energi alternatif yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini adalah shale gas. Shale gas adalah gas alam yang terdapat di dalam batuan shale, yaitu sejenis batu lunak (serpih) yang kaya akan hidrokarbon.
Shale gas termasuk kategori gas non konvensional, sama seperti CMB (Coal Bed Methane), tight gas, sulfur gas, dan hydrant gas. Pada dasarnya, shale gas sama dengan gas pada umumnya. Lantas dimana letak perbedaan shale gas dengan gas konvensional?
Gas konvensional dapat ditemukan pada reservoir dengan permeabilitas besar (>1 md), sedangkan shale gas ditemukan pada reservoir dengan permeabilitas rendah (<1 md) dan tidak dapat diekstrak dengan menggunakan metode konvensional.
Geologi dari Gas Alami

Perbedaan lainnya , shale gas terbentuk dan terjebak langsung pada batuan induk. Sedangkan gas konvensional setelah terbentuk di batuan induk akan bermigrasi dan terjebak pada batuan sedimen. Letak shale gas biasanya lebih dalam daripada gas konvensional.
Berdasarkan data Badan Geologi Kementrian ESDM, total volume shale gas Indonesia mencapai 574 TCF (Trillion Cubic Feet) dari total cadangan dunia sebesar 6622 TDF. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia berada di peringkat 6 dunia dibawah Rusia, Amerika Serikat, China, New Zealand, dan Kanada. Cadangan shale gas Indonesia pun lebih besar bila dibandingkan dengan CMB dan gas konvensional.
Potensi shale gas Indonesia mayoritas terdapat di region Sumatera yang tersebar di cekungan North Sumatera, Central Sumatera, South Sumatera  dan cekungan Ombilin. Selain Sumatera, Kalimantan juga kaya akan shale gas yang tersebar di cekungan Barito, Kutai, Tarakan, Melawi dan Ketungau. Di region Papua, shale gas terdapat di cekungan Akimeugah dan Bintuni. Dan di region Jawa, wilayah persebarannya meliputi cekungan North West Java dan North East Java.
Amerika Serikat menyadari bahwa shale gas bisa menjadi game changer di industri skala global. Shale gas mulai diproduksi sejak 1880 namun belum membooming karena cadangan migas masih terlalu banyak kala itu. Produksi secara komersil baru dilakukan Amerika pada tahun 1988 dan saat ini bisa mengcover kebutuhan energi negara tersebut untuk 40 tahun kedepan, dan ini salah satu penyebab mengapa harga minyak dunia turun.
Indonesia sendiri masih jauh tertinggal, shale gas masih dalam tahap eksplorasi dan pengkajian. Pasalnya letak formasi batuan serpih Indonesia tergolong dangkal dan usianya relatif muda, sehingga apabila ingin dilakukan produksi, biaya produksinya akan membengkak, melebihi gas konvensional dan batubara. Diperlukan teknologi yang lebih maju dan biaya yang lebih tinggi untuk memproduksi shale gas secara eknomis.

Baca Juga:

Gedung Tertinggi dari Masa ke Masa

Klasifikasi Jalan Menurut Fungsinya

Gita Wirjawan, Mantan Menteri yang Berprestasi


Post a Comment